Di tepi lintasan lari YPI Al Azhar Menganti, Ahmad Farzan Abizar Al Ghifari terduduk sambil menahan isak. Rasa perih di kulitnya yang bersimbah darah bukan sekadar rasa sakit fisik, tapi ancaman bagi mimpi yang ia bawa dari rumah. Di sekelilingnya, 80 lebih pelari dengan postur jauh lebih besar tampak seperti raksasa bagi murid kelas 2C MIN 1 Gresik ini.
Namun, sejarah tidak mencatat siapa yang paling mulus jalannya, melainkan siapa yang paling tangguh menghadapi setiap tantangan yang menghadangnya.
Kejuaraan Atletik Se-Kabupaten Gresik pada Sabtu (17/01/2025) menjadi panggung debut bagi Farzan. Sebagai pendatang baru, ia semula dipandang sebelah mata. Posturnya yang mungil membuatnya luput dari perhitungan. Paha lawannya lebih besar. Badan mereka lebih menjulang. Langkah mereka lebih panjang. Tapi saat aba-aba dibunyikan, Farzan seketika bertransformasi menjadi peluru yang melesat meninggalkan lawan-lawannya. Ia membelah lintasan lari 40 meter dengan kecepatan yang membuat penonton menahan napas.
Bangkit dari Insiden Semifinal
Momen paling dramatis justru terjadi tepat sebelum babak semifinal berlangsung. Farzan mengalami insiden tertabrak oleh peserta lain hingga mengalami luka-luka. Farzan menangis. Luka lecet penuh darah menghiasi tubuh kecilnya. Sumarto, S.Pd., Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan yang mendampinginya, menyaksikan langsung bagaimana gurat kegigihan yang terpampang jelas di wajah bocah kecil itu. “Saya menjadi saksi betapa luar biasanya anak ini. Mentalnya sangat kuat, keinginannya besar, dan itulah yang memunculkan mental juara dalam diri Farzan,” ungkapnya.
Keputusan untuk lanjut bertanding -alih-alih menyerah- adalah sebuah keputusan berani yang berakhir manis. Di babak final, Farzan tak memberi ruang bagi rasa sakit. Ia terus melesat, mengunci posisi ketiga, dan membuktikan bahwa urusan podium bukanlah soal siapa yang bertubuh paling tinggi, tapi siapa yang paling keras tekad dan kemauannya.
Menuju Panggung Nasional
Keberhasilan ini langsung mengamankan tiket Farzan menuju level yang lebih tinggi. Lukman Hakim, S.Or., sang pelatih, tak mampu menyembunyikan optimismenya melihat potensi besar yang ada pada diri muridnya tersebut. Baginya, Farzan adalah sebongkah berlian yang siap diasah agar dapat memancarkan kilaunya.
"Event atletik di Surabaya adalah target selanjutnya. Kami akan membawa Farzan ke tingkat nasional. Jika di sini ia bisa mengalahkan rasa sakit dan menyingkirkan puluhan pesaing, maka kami yakin Farzan siap bertarung menghadapi atlet-atlet terbaik dari provinsi lain," tegas Lukman.
Kini, Ahmad Farzan bukan lagi sekadar nama seorang murid bertubuh mungil yang duduk di kelas 2C MIN 1 Gresik. Ia adalah simbol bagi siapa saja yang merasa kecil: bahwa di lintasan kehidupan, tekad yang besar akan selalu punya cara untuk mencapai garis finish! [LH]

No comments:
Post a Comment