Gresik, 15 Juli 2026 – MIN 1 Gresik terus memantapkan langkah menuju Sekolah Adiwiyata Mandiri dengan mengikuti kegiatan Pembinaan Calon Sekolah Adiwiyata Nasional (CSAN) dan Calon Sekolah Adiwiyata Mandiri (CSAM), Rabu (15/7/2026). Kegiatan yang menghadirkan Yudo Siswanto bersama Tim Penggerak Adiwiyata Kabupaten Gresik ini bertujuan memberikan pendampingan dalam mempersiapkan, memeriksa, dan menyempurnakan dokumen pengajuan Adiwiyata. Dalam kegiatan tersebut, MIN 1 Gresik hadir sebagai Calon Sekolah Adiwiyata Mandiri (CSAM), sedangkan dua sekolah lain yang berstatus Calon Sekolah Adiwiyata Nasional (CSAN), yaitu UPT SDN 214 Gresik dan MI Riyadhatul Athfal, juga mengikuti pembinaan.
Kegiatan dibuka oleh Kepala MIN 1 Gresik, Santiaji, M.Pd., yang menyampaikan apresiasi atas dedikasi Tim Adiwiyata dalam mempersiapkan madrasah menuju predikat Sekolah Adiwiyata Mandiri. Menurutnya, Program Adiwiyata bukan sekadar memenuhi persyaratan administrasi atau mengejar penghargaan, tetapi merupakan upaya membangun budaya peduli lingkungan yang tertanam dalam kehidupan sehari-hari seluruh warga madrasah. Ia juga berharap pendampingan dari Tim Penggerak Adiwiyata Kabupaten Gresik dapat terus dilakukan agar seluruh program lingkungan terdokumentasi dengan baik dan memenuhi standar penilaian.
Dalam sesi pembinaan, Yudo Siswanto bersama tim melakukan pemeriksaan terhadap berbagai dokumen, mulai dari kebijakan madrasah, program kerja, laporan pelaksanaan kegiatan, hingga bukti pendukung yang telah disusun oleh masing-masing sekolah. Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan adanya keterkaitan antara kebijakan sekolah, pelaksanaan program, keterlibatan warga sekolah, serta dampak nyata yang dihasilkan dalam upaya pelestarian lingkungan.
Yudo Siswanto menjelaskan bahwa dokumen pengajuan Adiwiyata harus mampu menggambarkan pelaksanaan program secara nyata, bukan sekadar memenuhi aspek administratif. Setiap dokumen harus didukung bukti yang relevan, sistematis, dan sesuai dengan kondisi sebenarnya di sekolah. Bukti tersebut juga perlu menunjukkan proses pelaksanaan, keterlibatan seluruh warga sekolah, hasil yang dicapai, serta keberlanjutan program sehingga memudahkan tim penilai dalam melakukan verifikasi.
Menurut Yudo, secara umum progres yang telah dicapai oleh sekolah-sekolah peserta sudah cukup baik. Namun, masih terdapat beberapa bagian yang perlu disempurnakan, terutama terkait kelengkapan bukti pendukung, kesesuaian antara program dengan dokumentasi, serta penyusunan dokumen agar lebih sistematis. Ia mengingatkan bahwa penyempurnaan dokumen tidak hanya mengejar banyaknya berkas, tetapi harus benar-benar mencerminkan praktik baik yang telah diterapkan di sekolah.
Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan meraih predikat Sekolah Adiwiyata Nasional maupun Sekolah Adiwiyata Mandiri tidak hanya ditentukan oleh kualitas administrasi. Hal yang lebih penting adalah terbentuknya budaya peduli lingkungan melalui pengelolaan sampah, penghijauan, penghematan air dan energi, serta keterlibatan aktif seluruh warga sekolah. Ketika budaya tersebut telah berjalan secara konsisten, dokumen akan menjadi bukti autentik dari praktik yang telah dilaksanakan.
Berbagai masukan yang diberikan selama pembinaan menjadi motivasi bagi Tim Adiwiyata MIN 1 Gresik untuk segera menindaklanjuti seluruh catatan yang disampaikan. Penyempurnaan akan dilakukan tidak hanya pada aspek administrasi, tetapi juga melalui penguatan program lingkungan dan peningkatan partisipasi seluruh warga madrasah agar implementasi Program Adiwiyata semakin optimal, berkelanjutan, dan memberikan dampak nyata.
Ketua Tim Adiwiyata MIN 1 Gresik, Lukman Hakim, S.Or., menyampaikan bahwa kegiatan pembinaan memberikan manfaat besar karena membantu tim memahami bagian-bagian dokumen yang masih perlu diperbaiki. Seluruh masukan dari Yudo Siswanto dan Tim Penggerak Adiwiyata Kabupaten Gresik akan segera ditindaklanjuti melalui koordinasi dan pembagian tugas bersama seluruh anggota tim dan kelompok kerja. Menurutnya, keberhasilan Program Adiwiyata membutuhkan kolaborasi kepala madrasah, guru, tenaga kependidikan, peserta didik, komite, orang tua, hingga masyarakat sekitar.
Pembinaan berlangsung secara interaktif melalui pemaparan materi, pemeriksaan dokumen, diskusi, dan konsultasi langsung mengenai berbagai kendala yang dihadapi sekolah selama proses pengajuan. Melalui kegiatan ini, MIN 1 Gresik semakin optimistis menghadapi proses penilaian sebagai Calon Sekolah Adiwiyata Mandiri, sementara UPT SDN 214 Gresik dan MI Riyadhatul Athfal memantapkan persiapan menuju Sekolah Adiwiyata Nasional. Pembinaan ini sekaligus memperkuat komitmen seluruh peserta dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang bersih, sehat, hijau, nyaman, dan berkelanjutan. (MZF)

No comments:
Post a Comment