Kisah Ahmad Farzan, Si Kancil MIN 1 Gresik yang Bikin Kejutan di Pentas Atletik Nasional

Ahmad Farzan Abizar Alghifari murid MIN 1 Gresik berdiri di podium juara 3 sambil membawa sertifikat dan mengenakan medali pada kejuaraan atletik di UNESA Surabaya

SURABAYA
— Sorak-sorai di Lapangan Atletik Oentoeng Poedjadi Universitas Negeri Surabaya (UNESA) akhir Agustus lalu masih menyisakan satu cerita yang bikin bulu kuduk berdiri. Di tengah ribuan pasang mata yang memadati ajang East Java Youth and Kids Athletic Session 2 Tahun 2026, seorang murid kelas 3 dari MIN 1 Gresik berdiri tegak di garis awal. Tubuhnya mungil, tapi tatapan matanya menyalakan keberanian yang tidak main-main.


Nama lengkapnya Ahmad Farzan Abizar Alghifari. Di sekolah, teman-teman dan gurunya akrab menyapa murid lincah ini dengan julukan "Kancil" atau "Si Kecil Cabe Rawit". Hari itu, di atas lintasan Lapangan Atletik Oentoeng Poedjadi, Farzan bertarung di nomor Frog Jump SD-B Putra—sebuah arena yang menuntut paduan sempurna antara kekuatan otot kaki, keseimbangan, dan mental baja.


Begitu Farzan mendarat, panitia menarik pita ukur dan mencatat angka 6,29 meter. Kejutan sebenarnya baru terlihat di papan skor: persaingan pada nomor ini berjalan sangat sengit, di mana tiap milimeter lompatan menentukan nasib para atlet.


Juara pertama merengkuh emas dengan capaian 6,30 meter, sementara posisi kedua dan ketiga—yang ditempati Farzan—sama-sama mencatatkan angka 6,29 meter. Bahkan peringkat keempat menempel ketat di angka 6,28 meter.


Tipis sekali. Hanya satu sentimeter yang memisahkan Farzan dari podium tertinggi.

"Farzan menunjukkan perjuangan yang luar biasa. Catatan 6,29 meter dalam persaingan seketat ini bukan hasil yang mudah. Selisih dengan juara pertama cuma satu sentimeter. Ini bukti kalau mental bertanding Farzan sudah terbentuk," ujar Lukman Hakim, S.Or., pelatih atletik MIN 1 Gresik, sembari menatap bangga ke arah murid didiknya tersebut.

Selisih satu sentimeter memang bikin geregetan. Namun bagi anak kelas 3 SD yang baru pertama kali berhadapan dengan lawan-lawan tangguh dari berbagai daerah, selisih tipis itu bukan alasan untuk berkecil hati. Angka 6,29 meter itu justru jadi bukti bahwa nyali dan bakat Farzan tak bisa dipandang sebelah mata, meski postur tubuhnya paling mungil di lapangan.


Medali perunggu di leher Farzan hari itu bukan sekadar hadiah hiburan. Dari ajang ini, ia belajar menghadapi tekanan panggung nasional dan paham rasanya bersaing ketat hingga batas akhir.


Perjalanan murid berjuluk Si Kancil ini jelas masih sangat panjang. Jarak satu sentimeter menuju puncak bukanlah tembok tebal yang mustahil ditembus, melainkan sumber motivasi baru untuk latihan berikutnya. Kalau hari ini ia sanggup menembus podium nasional, esok hari bukan tidak mungkin Farzan akan melompat jauh lebih tinggi. [LH]

No comments:

Post a Comment