GRESIK — Memasuki kelas 1 sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah, seorang anak tidak hanya membawa tas dan perlengkapan belajar. Ada dunia baru yang harus ia kenali: guru, teman-teman, aturan sekolah, sekaligus tuntutan untuk mulai lebih mandiri. Di fase inilah, perhatian orang tua menjadi penting. Bukan untuk menuntut anak segera bisa segala hal, melainkan untuk memahami bagaimana ia tumbuh dan belajar.
Hal itulah yang menjadi perhatian MIN 1 Gresik saat menggelar kegiatan Parenting Ramah Anak pada Senin, 28 September 2026. Kegiatan yang diikuti oleh wali murid dari 119 murid tersebut dibuka langsung oleh Kepala MIN 1 Gresik, Santiaji, M.Pd.
Hadir sebagai narasumber, Asti Candrasasi, C.P., M.Psi., psikolog yang mengajak orang tua melihat perkembangan anak dari sudut pandang yang lebih luas. Menurutnya, tidak ada dua anak yang tumbuh dengan cara yang benar-benar sama. Mereka memiliki karakter, minat, kemampuan, dan kecepatan perkembangan masing-masing.
Karena itu, mengenali anak tidak cukup hanya dengan melihat nilai yang tercantum di buku hasil belajar.
Memahami Anak yang Sedang Beradaptasi
Bagi sebagian murid kelas 1, hari-hari pertama di madrasah ibtidaiyah bisa menjadi pengalaman yang cukup menantang. Mereka harus meninggalkan kebiasaan saat masih berada di jenjang sebelumnya dan mulai menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berbeda.
Belajar membaca, menulis, dan berhitung memang menjadi bagian dari proses tersebut. Namun, ada hal lain yang tidak kalah penting: belajar berteman, mengikuti aturan, menyampaikan keinginan, mengelola rasa kecewa, hingga berani mencoba sesuatu yang baru.
Perubahan-perubahan kecil itu terkadang luput dari perhatian orang dewasa. Padahal, dari sanalah proses kemandirian anak mulai terbentuk.
Setiap Anak Punya Kekuatan yang Berbeda
Dalam kegiatan tersebut, orang tua juga diajak untuk tidak menjadikan kemampuan akademik sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan anak.
Ada murid yang cepat menangkap pelajaran. Ada pula yang lebih menonjol ketika menggambar, bernyanyi, bergerak, berbicara di depan orang lain, bekerja bersama teman, atau justru menunjukkan kepedulian ketika melihat orang lain membutuhkan bantuan.
Kemampuan-kemampuan tersebut mungkin tidak selalu terlihat dalam angka. Namun, semuanya merupakan bagian dari potensi yang dapat terus dikembangkan apabila anak mendapatkan kesempatan dan pendampingan yang tepat.
Di sinilah peran orang tua menjadi penting: memperhatikan apa yang membuat anak tertarik, bagaimana ia menyelesaikan masalah, apa yang membuatnya percaya diri, sekaligus memahami hal-hal yang masih menjadi kesulitannya.
Bukan Menahan Emosi, tetapi Belajar Mengenalinya
Pembahasan parenting juga menyentuh perkembangan emosional anak. Pada usia sekolah dasar, anak mulai belajar mengenali berbagai perasaan yang muncul dalam dirinya.
Rasa senang, marah, kecewa, takut, malu, atau sedih merupakan bagian dari pengalaman sehari-hari. Anak perlu dibantu untuk mengenali perasaan tersebut dan belajar menyampaikannya dengan cara yang tepat.
Kemampuan memahami perasaan orang lain pun tumbuh melalui pengalaman. Dari hubungan dengan orang tua, saudara, guru, dan teman, anak perlahan belajar tentang empati, kerja sama, serta bagaimana bersikap ketika menghadapi situasi yang tidak berjalan sesuai keinginannya.
Memberi Ruang untuk Bergerak dan Mencoba
Perkembangan anak juga tidak terlepas dari aktivitas fisik. Bermain, bergerak, mencoba sesuatu yang baru, maupun melakukan kegiatan sederhana secara mandiri di rumah dapat menjadi pengalaman belajar yang berarti.
Orang tua tidak harus selalu memberikan aktivitas yang rumit. Kesempatan untuk melakukan sesuatu sendiri, menyelesaikan tugas sederhana, atau mencoba kembali ketika mengalami kesulitan justru dapat membantu anak membangun rasa percaya diri.
Ketika anak menemui kegagalan, respons orang dewasa juga memiliki peran besar. Alih-alih buru-buru menyalahkan atau mengambil alih, anak dapat diajak melihat apa yang membuatnya kesulitan dan mencari cara untuk mencobanya lagi.
Dengan begitu, kesalahan tidak berhenti sebagai pengalaman yang membuat anak takut. Ia dapat menjadi bagian dari proses belajar.
Mendampingi, Bukan Menuntut Kesempurnaan
Pada akhirnya, mendampingi anak bukan sekadar menuntut mereka menjadi seperti yang diharapkan orang tua. Orang tua perlu mengenali karakter dan kebutuhan anak, memahami proses perkembangannya, lalu memberikan dukungan yang membuat mereka merasa aman untuk belajar dan tumbuh.
Semangat tersebut sejalan dengan komitmen MIN 1 Gresik sebagai Sekolah Ramah Anak (SRA). Lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman tidak hanya dibangun melalui fasilitas maupun aturan sekolah, tetapi juga melalui hubungan yang baik antara murid, guru, dan keluarga.
Melalui kegiatan parenting ini, MIN 1 Gresik kembali mengingatkan bahwa mendampingi anak bukan sekadar memastikan mereka belajar dan mendapatkan nilai yang baik. Ada proses yang jauh lebih panjang di baliknya. Orang tua perlu mengenali karakter mereka, memberi ruang untuk mencoba, mendengarkan ketika mereka bercerita, serta menemani ketika mereka menghadapi kesulitan.
Yang tak kalah penting, orang tua juga dapat membantu anak menemukan kekuatan yang mungkin belum mereka sadari sendiri. Sebab setiap anak memiliki jalannya masing-masing untuk tumbuh. Tugas orang dewasa bukan menentukan seluruh jalan itu, melainkan memastikan mereka tidak berjalan sendirian. [ASA]

No comments:
Post a Comment