Pendidikan Berbasis Kasih Sayang, Guru MIN 1 dan MIN 2 Gresik Dalami Kurikulum Berbasis Cinta

Suasana guru-guru MIN 1 dan MIN 2 Gresik mengikuti Workshop Piloting Kurikulum Berbasis Cinta di Aula Gedung SBSN MIN 1 Gresik

Upaya mewujudkan pendidikan madrasah yang unggul tidak hanya bertumpu pada capaian akademik semata, tetapi juga penanaman nilai spiritual, kasih sayang, dan akhlak mulia. Komitmen tersebut ditunjukkan oleh para guru MIN 1 Gresik dan MIN 2 Gresik melalui keikutsertaan mereka dalam Workshop Piloting Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu, 10 Oktober 2026, bertempat di Aula Gedung SBSN MIN 1 Gresik ini menjadi ruang berharga bagi para pendidik untuk memperluas wawasan dan memperdalam strategi pembelajaran yang humanis.

Melalui workshop ini, para pendidik diajak untuk menghadirkan proses belajar yang menyentuh hati sekaligus membangun karakter murid. Pendekatan ini dirancang agar murid dapat menumbuhkan rasa cinta kepada Allah Swt., Rasulullah saw., sesama manusia, hingga lingkungan sekitar. Kehadiran para pimpinan madrasah serta pengawas pendidikan—seperti Mulyono, M.Pd. (Ketua Pokjawas Kab. Gresik), Mabrur, M.Pd.I (Pengawas MI Kec. Kedamean), dan Nur Yajid, M.Pd.I (Pengawas MI Kec. Benjeng)—semakin memperkuat dukungan terhadap pengembangan kualitas pembelajaran madrasah.

Rangkaian acara diawali dengan pembukaan resmi oleh Kepala MIN 1 Gresik, Santiaji, M.Pd., yang membawa suasana penuh hangat dan kebersamaan. Memasuki sesi inti, Mabrur, M.Pd.I hadir sebagai narasumber untuk memaparkan hakikat Kurikulum Berbasis Cinta. Dalam penjelasannya, beliau menekankan bahwa KBC bukanlah sekadar dokumen tertulis, melainkan pendekatan nyata yang harus dihidupkan dalam keseharian madrasah dan proses interaksi pembelajaran.

Pendekatan Kurikulum Berbasis Cinta mendorong guru menempatkan kasih sayang, kepedulian, penghargaan, dan keteladanan sebagai fondasi utama pendidikan. Madrasah dirancang bukan hanya sebagai tempat mentransfer ilmu, tetapi juga menjadi ruang aman bagi murid untuk tumbuh, menghargai perbedaan, dan membangun relasi yang positif. Penerapannya dimulai dari budaya sekolah, seperti tutur kata santun, saling menghormati, dan kepedulian terhadap kebutuhan tiap murid.

Para peserta juga dibekali pemahaman mengenai siklus penerapan KBC dalam kegiatan belajar-mengajar. Guru diharapkan mampu mengintegrasikan nilai-nilai kasih sayang ke dalam seluruh tahapan kelas, mulai dari pembukaan, kegiatan inti, hingga penutup. Dengan demikian, suasana belajar tidak berfokus pada penguasaan materi semata, melainkan memberi ruang bagi tumbuhnya kesadaran spiritual dan pembiasaan akhlak terpuji.

Salah satu fokus penting dalam pelatihan ini adalah penanaman rasa cinta kepada Allah Swt. dan Rasulullah saw. Langkah sederhana dapat dimulai dengan mengajak murid menyadari dan mensyukuri nikmat belajar di awal pembelajaran. Sementara itu, keteladanan akhlak Rasulullah ditanamkan lewat kebiasaan berkata baik, jujur, serta peduli kepada sesama, sehingga nilai agama tercermin langsung dalam tindakan nyata.

Materi yang disampaikan memberikan inspirasi mendalam bagi para guru untuk merefleksikan praktik mengajar yang selama ini dijalankan. Keberhasilan pendidikan kini dipahami secara lebih utuh, di mana capaian belajar murid diukur seimbang antara prestasi akademik, kematangan karakter, dan kepedulian sosial. Wawasan baru ini menjadi bekal berharga bagi para pendidik dalam menciptakan ruang kelas yang menyenangkan dan bermakna.

Pelaksanaan workshop ini menjadi momentum krusial untuk memperkuat komitmen bersama warga madrasah dalam menciptakan lingkungan belajar yang ramah dan inklusif. Semangat Kurikulum Berbasis Cinta diharapkan terus menjadi penggerak bagi MIN 1 Gresik dan MIN 2 Gresik dalam mencetak generasi penerus yang berilmu, beriman, dan berakhlak mulia. [HR]

No comments:

Post a Comment