Menebar Maslahat di Hari Asyura: Kehangatan Lebaran Yatim MIN 1 Gresik

Kepala Madrasah MIN 1 Gresik menyerahkan paket tasyaruf dan alat tulis kepada murid yatim.

Langkah-langkah kecil para murid yang hadir di ruang pertemuan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 1 Gresik pagi itu membawa cerita tersendiri. Bertepatan dengan penanggalan 10 Muharram 1448 Hijriah yang jatuh pada Jumat, 26 Juni 2026, madrasah ini memilih cara menyentuh untuk memaknai pergantian tahun baru Islam. Melalui program "Lebaran Yatim dan Penyandang Disabilitas Tahun 2026", nilai inklusivitas dan kepedulian sosial diwujudkan secara nyata dalam ruang yang penuh kebersamaan.

Acara yang berlangsung singkat dari pukul 08.00 hingga 09.30 WIB ini merupakan implementasi lokal dari gerakan nasional Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Ditjen Bimas Islam) Kementerian Agama RI. Mengusung tema "Pesan Inklusif untuk Anak Negeri: Menebar Maslahat, Menguatkan Umat", pihak madrasah berupaya memastikan seluruh anak didik mendapatkan hak dan perhatian yang setara, tanpa memandang latar belakang sosial mereka.

Sebanyak 42 murid hadir sebagai penerima manfaat utama dalam kegiatan ini. Mereka terdiri atas 13 murid yatim, 8 murid piatu, serta 21 murid dari keluarga kurang mampu. Kehadiran mereka di tengah forum ini menjadi jembatan kebaikan dari para Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Gresik yang telah menyisihkan sebagian rezekinya.

Suasana haru sekaligus penuh syukur mewarnai momen pembagian paket tasyaruf. Setiap anak menerima perlengkapan esensial untuk menunjang pendidikan mereka, mulai dari tas sekolah, alat tulis, perlengkapan belajar, hingga asupan tambahan berupa susu dan makanan ringan. Bantuan ini hadir sebagai bentuk dukungan moral agar mereka tetap tegap melangkah menuntut ilmu.

Langkah apresiatif juga ditunjukkan oleh Kepala MIN 1 Gresik, Santiaji, M.Pd., yang secara khusus memberikan penghargaan kepada beberapa murid penerima manfaat yang tercatat pernah meraih prestasi dalam berbagai ajang perlombaan. Pendekatan ini dilakukan untuk menumbuhkan rasa percaya diri bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah pembatas bagi mereka untuk terus mekar dan berprestasi.

Hidupnya interaksi di dalam ruangan juga terjaga berkat adanya sesi tanya jawab edukatif. Kepala Madrasah melemparkan beberapa pertanyaan ringan seputar keislaman yang langsung disambut antusias oleh para murid. Keberanian dan keaktifan mereka yang berhasil menjawab dengan benar mendapat apresiasi langsung, menciptakan ruang belajar yang hangat dan tidak kaku.

Dalam penyampaiannya yang didampingi oleh Koordinator Bidang Humas, Moch. Ainur Rokim, S.Pd., Santiaji menekankan pentingnya menjadikan momentum tahun baru hijriah sebagai titik tolak untuk memperbaiki diri. Beliau mengingatkan para murid bahwa proses belajar yang konsisten adalah fondasi utama dalam meraih cita-cita di masa depan.

"Kami berharap santunan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi anak-anak sekalian. Teruslah menjadi pribadi yang rajin dan disiplin. Jangan pernah berhenti berusaha, karena masa depan yang gemilang lahir dari ketekunan yang dipupuk sejak dini," pesan Santiaji. Beliau juga berharap kegiatan sosial seperti ini dapat terus mengakar menjadi tradisi mandiri di madrasah.

Sebelum melangkah meninggalkan ruangan, sebuah pemandangan penuh takzim menutup rangkaian agenda pagi itu. Para murid berbaris dengan tertib untuk menjabat dan mencium tangan para guru sebagai bentuk rasa hormat. Di sela-sela pamitan tersebut, para pendidik memberikan usapan hangat di kepala anak-anak sembari menyisipkan doa tulus, mengunci pertemuan hari itu dengan rasa kekeluargaan yang mendalam. [MDH]


No comments:

Post a Comment