GRESIK – Sabtu pagi, 28 Februari 2026, suasana di lingkungan MIN 1 Gresik terasa berbeda. Wangi sisa hujan semalam bersalin rupa dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang menggema syahdu dari ruang pertemuan. Hari itu, para guru dan pegawai tidak sedang berkutat dengan tumpukan silabus, melainkan sedang menata ulang "arsitektur" spiritual mereka melalui Kajian Ramadhan 1447 H.
Bukan sekadar rutinitas tahunan, agenda kali ini menjadi oase di tengah gempuran digitalisasi pendidikan yang seringkali menguras energi batin para pendidik.
Membasuh Jiwa dengan Pesan Sang Sufi
Langkah kaki para pendidik ini tertuju pada satu titik: Thalabul ‘ilmi. Kitab klasik fenomenal karya Ibrahim As-Samarqandi, Tanbihul Ghafilin, terbuka di hadapan mereka. Di bawah bimbingan Ustadz Khotib, S.Pd., fokus kajian tertuju pada satu bab yang sangat personal sekaligus krusial: Bab Hak Anak atas Orang Tuanya.
Ustadz Khotib membawakan materi dengan gaya yang sistematis namun reflektif. Beliau seolah mengajak para peserta bercermin—apakah peran mereka sebagai orang tua dan pendidik sudah selaras dengan tuntunan langit?
"Pemberian nama yang baik itu bukan sekadar urusan administrasi di akta kelahiran," urai Ustadz Khatib dengan nada lembut namun bertenaga. "Itu adalah doa pertama yang kita sematkan pada pundak anak, harapan yang akan mereka bawa seumur hidup."
Sebuah Tamparan Keras dari Kisah Umar bin Khattab
Salah satu momen yang membuat ruangan seketika hening adalah saat Ustadz Khotib mengisahkan dialog legendaris antara Khalifah Umar bin Khattab dengan seorang ayah yang mengeluhkan kedurhakaan anaknya.
Di luar dugaan, sang anak justru membela diri dengan fakta pahit: ayahnya tak pernah memilihkan ibu yang salihah, tak memberinya nama yang layak, dan tak pernah mengenalkannya pada satu huruf pun dalam Al-Qur’an.
Kalimat tegas Umar yang dikutip dalam kajian tersebut seolah menjadi pengingat keras bagi semua yang hadir: "Engkau telah mendurhakai anakmu sebelum ia mendurhakaimu." Sebuah penegasan bahwa karakter anak seringkali hanyalah pantulan dari apa yang (tidak) ditanamkan orang tua sejak dini.
Mendidik dengan "Hati yang Hati-hati"
Kajian ini juga memotret sisi humanis dari para ulama terdahulu. Ada sebuah kisah tentang seorang saleh yang sangat berhati-hati dalam memerintah anaknya. Ia lebih memilih meminta bantuan orang lain daripada menyuruh darah dagingnya sendiri.
Alasannya sangat menyentuh: ia takut jika sang anak sedang lelah dan menolak perintahnya, maka anak tersebut akan berdosa. Ia tak ingin menjadi jalan bagi anaknya menuju murka Ilahi. Sebuah perspektif kasih sayang yang melampaui ego otoritas orang tua.
Hak Dasar Anak dalam Perspektif Islam:
- Identitas yang Mulia: Mendapatkan nama yang mengandung doa dan harapan.
- Fondasi Ruhiyah: Pengajaran Al-Qur'an sebagai kompas hidup utama.
- Pendamping Hidup: Upaya orang tua memilihkan figur ibu (lingkungan) yang baik.
- Kemandirian: Membantu mereka menyempurnakan ibadah melalui pernikahan saat waktunya tiba.
Anak Saleh: Warisan yang Tak Tergerus Zaman
Menjelang akhir kajian, suasana semakin khidmat saat hadis tentang "tiga amal yang tak terputus" dibacakan. Di antara sedekah jariyah dan ilmu yang bermanfaat, terselip satu aset terbesar manusia: anak saleh yang mendoakannya.
Ustadz Khotib menutup sesi dengan sebuah pesan pamungkas bahwa mendidik anak dengan akhlak mulia adalah bentuk investasi akhirat yang paling nyata. Jika seorang anak mengamalkan satu kebaikan dari didikan orang tuanya, pahala itu akan terus mengalir deras, bahkan saat raga sang orang tua sudah menyatu dengan tanah.
Bagi civitas madrasah MIN 1 Gresik, Sabtu itu bukan sekadar pengisian waktu luang. Ia adalah momentum untuk pulang ke rumah dengan semangat baru—semangat untuk mencintai anak-anak mereka dengan lebih berilmu, dan mendidik murid-murid mereka dengan lebih banyak hati.
Apakah Anda sudah memberikan "hadiah" terbaik untuk masa depan buah hati hari ini? [MDH]

No comments:
Post a Comment