Pagi itu di Kedamean, matahari belum lagi menyengat, namun suasana di halaman MIN 1 Gresik sudah terasa hangat. Bukan karena cuaca, melainkan oleh riuh rendah langkah kaki ratusan siswa yang datang dengan binar mata berbeda. Ada yang unik di genggaman mereka. Alih-alih merogoh saku mencari lembaran uang atau sekeping koin untuk kotak infaq seperti hari-hari sebelumnya, tangan-tangan kecil itu justru menenteng botol plastik kosong.
Inilah potret hari ke-7 Pondok Ramadhan yang dilaksanakan pada 10 Maret 2026 di madrasah tersebut. Sebuah pemandangan yang barangkali bagi sebagian orang terlihat biasa, namun menyimpan filosofi mendalam tentang bagaimana ibadah tak melulu soal ritual di atas sajadah, tapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan bumi.
Mengetuk Pintu Langit Lewat Dhuha dan Kitab Kuning
Ritual pagi tetap terjaga khidmat. Barisan shaf shalat Dhuha tertata rapi, menjadi pembuka hari untuk menenangkan batin sebelum mereka menyelami samudera ilmu. Setelah salam terucap, suasana berganti menjadi ruang diskusi yang hidup. Di bawah bimbingan para guru, para siswa mulai membuka lembaran kitab Safinatun Najah.
Mempelajari fiqih dasar lewat kitab klasik ini bukan sekadar mengejar hafalan. Mereka diajak membedah tata cara ibadah agar lebih sempurna, sekaligus memetik nilai-nilai Islami yang bisa langsung dipraktikkan saat mereka pulang ke rumah nanti. Ilmu yang didapat pagi itu menjadi fondasi karakter yang coba dibangun oleh pihak madrasah.
Tak Ada Denting Koin, Hanya Derit Botol Plastik
Kejutan sesungguhnya muncul sesaat sebelum kegiatan inti dimulai. Jika biasanya mereka antri mengisi kotak infaq di lapangan madrasah dengan sedekah uang, kali ini panitia Pondok Ramadhan punya cara berbeda untuk mengetuk pintu kedermawanan siswa: Sedekah Botol Bekas.
Sebagai Madrasah Adiwiyata Nasional, MIN 1 Gresik nampaknya ingin membuktikan bahwa kesalehan spiritual harus berjalan beriringan dengan kesalehan ekologis. Inovasi "infaq sampah" ini menjadi cara yang sangat membumi untuk mengajarkan anak-anak bahwa berbagi tidak harus menunggu kaya, dan menjaga lingkungan adalah bagian dari iman.
"Kita ingin mereka sadar bahwa botol yang biasanya dibuang begitu saja, jika dikumpulkan dengan niat tulus, bisa menjadi amal jariyah sekaligus menyelamatkan bumi dari polusi plastik," ungkap Santiaji, Kepala MIN 1 Gresik, di sela-sela kegiatan.
Ruang Kelas yang Hidup dan Berwarna
Keseruan berlanjut di dalam kelas. Tak ada wajah mengantuk meski perut sedang kosong karena berpuasa. Para siswa justru berlomba unjuk gigi saat sesi presentasi kisah-kisah Nabi, di mana mereka belajar keberanian sekaligus meneladani akhlak mulia melalui cerita. Suasana pun kian syahdu saat lantunan ayat suci terdengar lebih merdu dalam sesi Tahsin Al-Qur’an yang menekankan pada kaidah Tajwid yang benar.
Seluruh materi diramu secara interaktif agar siswa tidak bosan. Mereka diajak mendalami praktik perilaku terpuji untuk keseharian, memantapkan kembali kaifiyah atau tata cara wudhu dan shalat agar lebih sempurna, hingga melancarkan hafalan doa serta surat-surat pendek sebagai bekal ibadah mereka sehari-hari. Madrasah ini seolah sedang menyemai benih-benih generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga santun secara perilaku.
Menanam Inspirasi di Bulan Suci
Apa yang dilakukan MIN 1 Gresik adalah sebuah pengingat bagi kita semua. Bahwa Ramadhan adalah momen terbaik untuk melakukan "detoksifikasi", bukan hanya bagi tubuh, tapi juga bagi lingkungan sekitar. Lewat langkah sederhana seperti menyedekahkan botol bekas, anak-anak ini sedang belajar tentang tanggung jawab besar sebagai pemimpin di muka bumi.
Pondok Ramadhan kali ini sukses meninggalkan kesan mendalam. Ibadahnya dapat, ilmunya bertambah, dan lingkungannya terjaga. Sebuah harmoni indah yang membuktikan bahwa spirit Ramadhan bisa diwujudkan dalam aksi nyata yang sangat menginspirasi bagi masyarakat luas. [LH]

No comments:
Post a Comment